Biografi Ma’ruf Amin

5 views

Ma'ruf Amin

Prof. Dr. K. H. Ma'ruf Amin adalah seorang sarjana dan politisi Islam Indonesia. Saat ini ia adalah ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI, atau Majelis Ulama Indonesia) dan Pemimpin Tertinggi (rais 'aam syuriah) dari Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di dunia. Pada 9 Agustus 2018, Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa Ma'ruf akan menjadi pasangannya dalam pemilihan presiden Indonesia 2019.

Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa ia akan mencalonkan diri untuk terpilih kembali dalam pemilihan presiden 2019. Wakil presiden Jusuf Kalla tidak dianggap memenuhi syarat untuk istilah lain karena batasan waktu yang ditetapkan untuk posisi presiden dan wakil presiden. (Jusuf Kalla sebelumya telah menjalani masa jabatan 5 tahun sebagai wakil presiden Yudhoyono dari 2004 hingga 2009.) Spekulasi mengenai siapa yang mungkin dipilih Jokowi sebagai pasangannya yang berfokus pada beberapa kandidat termasuk Mahfud MD, mantan menteri pertahanan dan hakim agung Mahkamah Konstitusi.

Pada tanggal 9 Agustus, dalam sebuah langkah mengejutkan, Jokowi mengumumkan bahwa Ma'ruf akan menjadi pasangannya. Mahfud telah mempersiapkan dirinya untuk menjadi calon wakil presiden Jokowi tetapi, setelah didorong oleh beberapa partai konstituen koalisi pemerintahan dan tokoh-tokoh Islam berpengaruh, Ma'ruf dipilih sebagai gantinya. Menjelaskan keputusannya, Jokowi merujuk pada pengalaman ekstensif Ma'ruf dalam urusan pemerintahan dan agama.

Awal kehidupan dan karir

Ma'ruf Amin lahir di Kresek, Tangerang, Masa Pendudukan Jepang, 11 Maret 1943, sebuah kabupaten di sebelah barat Jakarta di provinsi Banten. Ayahnya yang bernama KH. Mohammad Amin merupakan seorang ulama besar Banten. Dari silsilah keluarga KH Ma’ruf Amin merupakan keturunan dari ulama besar asal Banten yang pernah menjadi imam Masjidil Haram bernama Syeikh An Nawawi Al Bantani. Dia pertama kali pergi ke sekolah dasar di kecamatan Kresek. Setelah itu, ia melanjutkan studinya di Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur, sebuah pesantren yang berpengaruh yang didirikan oleh pendiri NU Hasyim Asy'ari. Dia kemudian akan menerima gelar sarjana dalam filsafat Islam dari Universitas Ibnu Khaldun di Bogor, Jawa Barat.

Tak lama setelah lulus kuliah, Ma'ruf melakukan misi dakwah di Jakarta. Pada saat itu, NU masih merupakan partai politik yang aktif dan Ma'ruf terpilih untuk parlemen Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat (atau DPR, Dewan Perwakilan Rakyat) dalam pemilihan nasional yang diadakan pada tahun 1971. Enam tahun kemudian, pada tahun 1977, ia terpilih menjadi anggota Dewan Kota Jakarta sebagai anggota Partai Persatuan Pembangunan (PPP) untuk satu periode (1977-1982) dan menjabat sebagai pemimpin kaukus PPP. Pada akhir masa jabatannya, Ma'ruf kembali ke dunia akademis dan aktivisme sosial. Pada tahun 1989, ia diangkat sebagai katib 'aam, posisi senior dalam syuriah NU, dewan pimpinan tertinggi. Dia kemudian bangkit untuk menjadi salah satu pemimpin, pemimpin, mengawasi kepemimpinan eksekutif Abdurrahman Wahid.

Setelah jatuhnya Suharto pada tahun 1998, Ma'ruf menjadi penasihat Partai Kebangkitan Bangsa Wahid (Partai Kebangkitan Bangsa, atau PKB) dan menasihati Wahid selama periode kepresidenan Indonesia dari 1999-2001. Ma'ruf kembali ke politik aktif dan mewakili PKB di DPR nasional dari 1999 hingga 2004. Selama masa jabatan kedua di DPR, Ma'ruf adalah ketua Komisi Keempat (pertanian, makanan, dan kelautan) serta anggota Komisi Kedua (urusan pemerintahan dan otonomi daerah) dan Dewan Anggaran.

Ketika menjadi anggota DPR selama 1999-2004, Ma'ruf memimpin komite Dewan Ulama yang bertugas mengeluarkan pendapat hukum (fatwa). Dia kembali ke MUI untuk memimpin Komite Nasional Syariah (bertindak dari 2004 hingga 2010). Dia juga menjabat sebagai penasihat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Dewan Penasehat Presidennya dari 2007 hingga 2014.

Pada tahun 2015 Ma'ruf mencalonkan diri untuk posisi mengangkat 'aam syuriah dari NU, setara dengan ketua dewan pimpinan tertinggi. Dia selesai di tempat kedua setelah incumbent Ahmad Mustofa Bisri dari Rembang's Pesantren Raudlatuth Thalibin. Dalam perkembangan yang signifikan, Ma'ruf kemudian terpilih untuk posisi oleh Kongres ke-33 NU.

Beberapa minggu setelah ia naik ke pos tertinggi NU, Ma'ruf terpilih menjadi ketua MUI, menggantikan Din Syamsuddin dari Muhammadiyah.

Keluarga

Istri pertama Ma'ruf, Siti Churiyah, meninggal pada Oktober 2013 pada usia 67 tahun. Pada saat kematiannya, pasangan itu memiliki 8 anak dan 13 cucu. 7 bulan kemudian, pada Mei 2014, ia menikahi Wury Estu Handayani yang telah menjadi janda selama sekitar 2 tahun. Mereka menikah dalam upacara sederhana namun dihadiri oleh banyak orang di masjid Sunda Kelapa yang terkenal di Menteng, Jakarta Pusat.

Biodata

Nama Lengkap : Ma'ruf Amin
Tempat tanggal lahir : Kresek, Tangerang, 11 Maret 1943

Pasangan

Iriana (istri)

Siti Churriyah (meninggal)
Wury Estu Handayani

Anak

8 anak dan 13 cucu

Orang tua

Mohammad Amin (Ayah)

Riwayat Pendidikan

Pendidikan Umum

SR Kresek, Tangerang (1955)
Madrasah Ibtidaiyah Kresek, Tangerang (1955)
Madrasah Tsanawiyah Pesantren Tebuireng, Jombang (1958)
Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang (1961)
Fakultas Ushuluddin Universitas Ibnu Chaldun, Bogor (1967)

Pendidikan Khusus

Pesantren, Banten (1963)

Perjalanan karier

Pekerjaan

Guru Sekolah-sekolah di Jakarta Utara (1964-1970)
Pendakwah (1964)
Dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Nahdatul Ulama (Unnu), Jakarta (1968)
Direktur dan Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan dan Yayasan Al-Jihad (1976)

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (kehidupan beragama) (2007–2010)
Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (2010–2014)

Legislatif

Anggota DPRD DKI Jakarta dari Utusan Golongan (1971-1973)

Keterlibatan dalam Organisasi

Ketua Fraksi Utusan Golongan DPRD DKI Jakarta
Anggota DPR RI dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) (1973-1977)
Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DPRD DKI Jakarta
Anggota DPRD DKI Jakarta dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) (1977-1982)
Pimpinan Komisi A dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
Anggota MPR RI dari PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) (1997-1999)
Anggota MPR RI dari Fraksi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa)
Anggota DPR RI dari PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) (1999-2004)
Ketua Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa)
Anggota Panitia Anggaran DPR RI dari Fraksi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa)
Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) (1999)

Kegiatan Lain

Ketua Ansor, Jakarta (1964-1966)
Ketua Front Pemuda (1964-1967)
Ketua NU, Jakarta (1966-1970)
Wakil Ketua Wilayah NU, Jakarta (1968-1976)
Anggota Koordinator Da'wah (Kodi), Jakarta (1970-1972)
Anggota Bazis (Badan amil zakat, infaq, dan shadaqah), Jakarta (1971-1977)
Ketua Dewan Fraksi PPP (1973-1977)
Anggota Pengurus Lembaga Da'wah PBNU, Jakarta (1977-1989)
Ketua Umum Yayasan Syekh Nawawi Al Bantani (1987)
Katib Aam Syuriah PBNU (1989-1994)
Anggota MUI Pusat (1990)
Rois Syuriah PBNU (1994-1998)
Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat (1996)
Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN) (1996)
Ketua Dewan Syuro PKB (1998)
Mustasyar PBNU (1998)
Anggota Komite Ahli Pengembangan Bank Syariah Bank Indonesia (1999)
Ketua Komisi Fatwa MUI (2001-2007)
Mustasyar PKB (2002-2007)
Ketua Harian Dewan Syariah Nasional MUI (2004-2010)
Ketua MUI (2007-2010)

Tags: #Biografi Ma'ruf Amin #Ma'ruf Amin