Profil kota pontianak dan sejarahnya

18 views

Pontianak adalah ibu kota provinsi Kalimantan Barat. Ini adalah kota industri ukuran sedang di pulau Kalimantan, di antara orang Indonesia, Pulau Kalimantan disebut Pulau Kalimantan. Pontianak menempati area seluas 107,82 km² di delta Sungai Kapuas, sekitar 1143 km, sungai terpanjang di Indonesia dan sungai terpanjang 138 di Dunia dengan panjang. Kota ini dikenal sebagai kota Khatulistiwa karena berada pada derajat nol transversal bumi. Di bagian utara kota, di Siantan, ada monumen Khatulistiwa yang dibangun di ruang tranversal nol derajat bumi. Hal ini terletak persis di khatulistiwa, maka dikenal luas sebagai Kota Khatulistiwa (Kota Khatulistiwa).

Tugu khatulistiwa pontianak

Sejarah

Kota ini dulunya adalah ibu kota Kesultanan independen Pontianak dan didirikan pada tahun 1772 di sekitar sebuah stasiun perdagangan lama di pantai Kalimantan. Bangunan ini dibangun di atas tanah rawa yang terkena banjir biasa di tepi sungai, membutuhkan bangunan yang akan dibangun di atas tumpukan agar tidak terguling. Ini namanya karena cerita bahwa sang pendiri telah melihat penampilan hantu Kuntilanak di tempat yang akan dibangun untuk istana, yang ia perjuangkan untuk menyelamatkan orang-orang.

Misteri kota pontianak

Misteri pontianak

Nama Pontianak yang berasal dari bahasa Melayu diyakini memiliki keterkaitan dengan cerita Sharif Abdurrahman yang kerap diganggu oleh hantu Kuntilanak saat ia membelah Sungai Kapuas. Menurut cerita, Sharif Abdurrahman terpaksa membuka meriam api untuk mengusir hantu-hantu itu sambil menunjukkan di mana meriam jatuh, lalu dia membangun kekaisarannya di sana. Kemudian dia mengembangkan kawasan ini menjadi pusat perdagangan yang makmur, dan berdiri di Pontianak. Bola meriam jatuh di dekat persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak, yang sekarang dikenal sebagai Kampung Beting. Sejarah kota Pontianak ditulis oleh seorang sejarawan Belanda, VJ. Verth, dalam bukunya 'Cambodgien Borneos Wester', bahwa kontennya sedikit berbeda dengan kisah cerita yang beredar di masyarakat saat ini.

Ekonomi

Pontianak terkenal dengan makanan dan hasil produksinya. Industri utamanya adalah pembuatan kapal dan produksi karet, minyak sawit, gula, lada, beras dan tembakau. Ini merupakan pusat utama emas untuk ekstraksi emas. Pontianak juga dikenal sebagai pusat perdagangan antara kota-kota luar negeri dan kota-kota lain di provinsi Kalimantan Barat. Ini juga memiliki hubungan perdagangan yang kuat dengan kota Kuching, Malaysia. Kegiatan perdagangan berpusat di sepanjang Sungai Kapuas, yang berkisar dari bagian paling timur provinsi Kalimantan Barat sampai Laut Cina Selatan.

pendidikan

Ada perguruan tinggi dan universitas yang dioperasikan oleh institusi negara maupun institusi swasta dan keagamaan. Universitas Tanjung Pura, sebuah universitas negeri, didirikan di Pontianak pada tahun 1963. Selain itu, ada universitas lain yang dikelola oleh institusi swasta. Universitas Muhammadiyah Universitas Widya Dharma, Universitas Panca Bhakti, STMIK, Universitas Panca Bhakti, Kolase Islam Negara (STAIN), POLNEP (Politeknik Negeri Pontianak), dll.

Demografi

Sensus tahun 2000 menempatkan penduduk Pontianak sekitar 472.220, dengan perkiraan intercensal pada tahun 2006 sebesar 509,804. Pontianak adalah kota multikultural. Ini memiliki populasi besar orang Tionghoa di samping kelompok etnis asli Melayu dan Dayak, tinggal di sepanjang sisi orang Jawa, Bugis, Batak, Minang, Madura, Sunda, Bali, Ambon dan Papua yang bermigrasi dari seluruh penjuru negeri.
Bahkan, Cina membentuk kelompok etnis tunggal terbesar di kota ini. Sebagian besar orang Tionghoa adalah Ekor Teochew atau Hakka. Teochew adalah lingua franca utama yang digunakan di kalangan orang Cina, dan Teochew adalah kelompok etnis Tionghoa yang dominan di Pontianak. Penduduk asli Indonesia terutama orang Melayu dan Dayak. Orang Madura dan Jawa juga minoritas yang signifikan. Sebagian besar warga Pontianak menggunakan aksen bahasa Melayu Melayu, yang agak mirip dengan yang digunakan di Malaysia.

Bahasa

Dialek Teochew Min Nan adalah lingua franca yang digunakan di antara orang-orang China di Pontianak. Dialek ini terkait erat dengan Teochew yang digunakan di Singapura dan Semenanjung Malaysia. Orang-orang China ini menelusuri asal-usul mereka ke wilayah Chaoshan di provinsi Guangdong di China.

Angkutan

Cara transportasi yang paling populer adalah sepeda motor. Angkutan umum meliputi minivan (lokal: opelet) dan becak bertenaga manusia (becak tiga roda). Ada beberapa bis kota yang hanya melayani rute tertentu saja. Bus kota antar membawa penumpang ke kota-kota terdekat lainnya (2, 3, sampai 10 jam atau lebih perjalanan), bahkan ke Kuching, sebuah kota di Malaysia. Transportasi darat ke Malaysia dimungkinkan melalui Jalan Trans Kalimantan (Jalan Lintas Kalimantan) ke Tebedu di Sarawak.
Transportasi ke daerah lain di Indonesia terutama melalui Bandara Supadio. Ada lebih dari 10 penerbangan setiap hari yang menghubungkan Pontianak dan Jakarta. Ada juga angkutan laut yang menghubungkan Pontianak ke Jakarta, Semarang, Cirebon dan beberapa kota lainnya, termasuk kota-kota regional seperti Ketapang di bagian selatan Kalimantan Barat.

Iklim

Pontianak memiliki iklim hutan hujan tropis di bawah klasifikasi iklim Koppen. Kota ini melihat jumlah hujan yang melimpah sepanjang tahun, rata-rata curah hujan 3210 mm per tahun. Hanya di bulan Juli rata-rata curah hujan bulanan turun di bawah 200 mm. Temperatur konsisten sepanjang tahun, dengan suhu rata-rata 30 derajat celcius rata-rata dan suhu rendah rata-rata 23 derajat celcius.

Tags: #Angkutan pontianak #Bahasa pontianak #Demografi pontianak #Ekonomi pontianak #Iklim pontianak #Misteri kota pontianak #pendidikan pontianak #Sejarah pontianak